Tampilkan postingan dengan label Industri Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Kreatif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Demo Pembuatan di Trotoar, Hantar Produknya Hingga Eropa

Tidak pernah terlintas dalam benak Edi C Purnomo, 43, yang lulus dari SMEA bisa mengenyam kehidupan mapan seperti sekarang. Dari pergulatannya membuka usaha kerajinan gerabah (tembikar), kini ia benar-benar menikmati hasil jerih payahnya.

Ia mengaku, semua yang dinikmati ini bukan perkara mudah. Tapi, penuh dengan rintangan. “Berapapun modal yang kita miliki tanpa dibarengi dengan semangat dan pengetahuan yang cukup terhadap usaha yang kita jalani, pasti akan cepat menuai kegagalan,” tutur Edi, ditemui di kediamannya di Jl Cangkring 21B, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Berpegang pada prinsip itulah, Edi menekuni kerajinan keramik yang terbuat dari tanah liat (lempung). Semua ia kerjakan dan pasarkan sendiri. Manajemen Bakso, begitu Edi meng-istilahkan.

Saran istri dan keluarga yang meminta dia memutar haluan, tak dihiraukan. Ia menutup rapat kedua telinganya dan terus melaju dengan rencananya. “Mereka berpendapat begitu wajar, karena hasil yang saya dapatkan tidak cukup untuk biaya makan,” aku Edi.

Pria yang telah dikarunia dua anak ini memilih usaha di bidang souvenir yang terbuat dari gerabah, selain kaya pengalaman dalam bidang kerajinan, modal yang dibutuhkan cukup kecil, sesuai dengan kemampuannya. Hanya bermodalkan tong (drum) bekas wadah oli dan bahan baku berupa tanah liat yang dicari sendiri.

Begitu juga dengan produk yang dihasilkan, lelaki yang hobi melukis di kanvas ini tidak segan-segan membuka stan lesehan di emperan toko atau di atas trotoar. Metode pemasaran yang dipilihnya cukup menarik, Sambil memamerkan dagangan beralaskan tikar plastik, Edi mendemonstrasikan cara membuat kerajinan souvenir.

“Sambil menunggu pembeli, saya memeragakan cara membuat gerabah. Ternyata teknik itu cukup mengena, mereka yang nonton banyak yang beli,” ujar Edi tersenyum.

Kendati banyak tantangan dan aral yang melintang, Edi berkomitmen membuka usaha di bidang kerajinan keramik. Puluhan tahun ia telah menggeluti kerajinan ini, mulai proses pembuatan hingga barang siap jual. Kota Bandung, Bekasi, Bogor dan Pulau Dewata, termasuk perusahaan-perusahaan keramik yang ada di Probolinggo, seperti Saki, Paolo, pernah dijelajahinya.

Bemodalkan ilmu itu dan dukungan dari pimpinan perusahaan yang pernah dimasukinya, Edi makin menancapkan cengkeramannya di usaha tersebut. Setelah berhasil di jalur gerabah, pria yang pernah menimba ilmu perkeramikan di negeri Thailand ini melangkahkan kaki di bidang keramik. “Atas kebaikan pemerintah provinsi, saya mendapat bantuan oven (pemanas). Dari sanalah, saya lebih mantab lagi berusaha,” katanya.

Meski telah memiliki oven, Edi masih terbentur modal. Untuk menggarap sebuah produk, Edi masih mengandalkan pesanan. Dari uang muka yang ia terima, digunakan untuk modal. Dari sana, setapak demi setapak usaha yang memanfaatkan pekarangan orangtuanya itu kini melonjak pesat.

Dalam kurun waktu 8 tahun, produk keramik Kinasih mampu menembus pasar Asia, seperti Thailand bahkan sampai pasar Eropa seperti, Itali. Untuk pasar domestik, Edi telah merambah ke Bali, Jakarta hingga ke Sumatra dan Kalimantan. “Yah lumayan mas, yang penting bisa mempekerjakan pengangguran, terutama tetangga sendiri,” jelasnya.

Untuk mensiasati pesaingnya, konsep yang dijalankan pria yang memilik usaha bersebelahan dengan tempat tinggalnya ini menciptakan model atau desain yang menarik dan beda. Konsep ini tercipta dilatar-belakangi oleh kurangnya peralatan.

“Peralatan memang masih kurang. Kondisi ini bukan berarti kita harus kalah, tetapi bagaimana dengan situasi ini kita bisa melampaui mereka. Buktinya, kami bisa,” papar Edi semangat.

Dalam memilih atau menentukan desain produk, selain ide pemesan dan diri sendiri, Edi juga memberi peluang kepada karyawannya untuk membuat desain. Jika konsep itu, bagus dan laku dijual, tanpa ada rasa sungkan, Edi meng-ACC konsep dari anak buahnya. Mengenai warna, ia lebih memilih warna yang terkesan alami.

Selain memproduk barang untuk ekspor dan dounter di kota-kota besar, Edi juga membuka peluang bagi warga yang berkeinginan memesan souvenir. ”Wah banyak mas, saya lupa. Macem-macem ada yang untuk perkawinan dan untuk souvenir haji,” aku Edi, seraya memperlihatkan souvenir yang dipesan oleh seseorang yang akan naik haji tahun depan. surya.co.id

Percantik Kemasan

Di setiap even spesial, sebuah cenderamata merupakan hal wajib yang harus disiapkan. Jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung, penyelenggara biasanya sibuk mencari jenis souvenir dan box atau wadah souvenir apa yang akan mereka berikan.

Adanya kebutuhan itu, berarti ada peluang usaha. Sehingga, tak mengherankan jika saat ini, banyak sekali pengusaha yang bergerak di bidang souvenir ini.

Menurut perajin box souvenir, Mimi Jovita, kini banyak sekali variasi dari souvenir. Mulai souvenir untuk ultah, launching produk atau pernikahan. Bentuknya sudah semakin beragam, mulai gantungan kunci, kipas, tempat tissue, dompet, hingga yang berwujud perkakas rumahtangga seperti sendok garpu, gelas, atau mangkok cantik.

Guna semakian mempercantik tampilan souvenir, salah satunya tergantung pada kemasan. Kemasan souvenir harus terlihat rapi dan sesuai dengan tema even yang digelar. Begitu juga dengan kotak souvenir atau box souvenir harus terlihat rapi dan harus disesuaikan dengan souvenir bersangkutan.

“Usaha ini nggak akan pernah berhenti. Banyak sekali pilihan untuk souvenir dan selama orang masih ada yang ultah atau menikah, usaha pembuatan souvenir akan tetap berjalan,” ulas Jovita.

Peluang usaha itu, diakuinya, dapat dijalankan dengan modal kreativitas, bahan-bahan baku yang beragam, dan tentunya semangat berwirausaha. surya.co.id

Laba Aksesoris Bros Kian Bersinar


Memakai aksesoris selain untuk melengkapi tampilan busana, juga bisa membuat sebagian orang lebih nyaman. Namun, memilih aksesoris yang sesuai agar bisa tampil berkesan tentu membutuhkan pertimbangan. Untuk aksesoris bros misalnya, meski bentuknya mungil tapi bisa menjadi finishing touch dari dandanan.

Saat ini, ada banyak aneka model bros cantik beredar di pasar. Bukan hanya bros buatan lokal, tapi juga bros impor. Bahan bakunya pun bervariasi mulai dari manik-manik, batuan, perak hingga emas.

“Saya paling suka bros dari bahan perak bakar. Kesannya etnik dan karakternya strong. Warnanya tidak terlalu ramai, sehingga bisa dipadu-padankan dengan banyak pakaian,” kata Retno Palupi, karyawati perusahaan pelayaran.

Lajang 29 tahun ini mengaku memiliki puluhan koleksi bros yang ia beli dari berbagai kota. “Setiap ke luar kota selalu berburu bros. Kisaran harganya per unit nggak mahal kok, rata-rata Rp 20.000-50.000. Sering juga belanja online atau lewat facebook,” ujar Palupi.

Sekali borong bisa sampai Rp 500.000. Ia mengoleksi aneka bros mulai dari bahan perak, kuningan, kayu, plastik, pita, batu, manik-manik. “Sebagian besar beli sendiri, sebagian lagi ada yang dikasih teman dan saudara,” lanjutnya.

Bagi Dewi Rosalina, salah satu perajin aksesoris, penjualan bros tak pernah mengenal musim. “Segmen aksesoris itu loyal. Apalagi yang bahannya dari bebatuan. Kalau penyuka batu pasti belinya ya batu terus, kalau perak ya perak terus biasanya,” katanya.

Wanita kelahiran Balikpapan 5 Mei 1976 ini mengaku, aksesori macam bros, kalung, gelang yang ia jual selama ini didesain dan dirangkai sendiri. “Khusus bahan bakunya disuplai orang,” ujar wanita yang telah membuka butik aksesoris DeRosa di Royal Plaza Lantai LG ini.

Selain merangkai berbagai aksesoris, ibu satu anak ini juga menjual bahan baku hingga alat-alat pembuat aksesoris di Royal Plaza. “Saya juga membuka kursus kilat merangkai aksesoris. Workshop aksesoris sering saya gelar juga. Peminatnya ternyata lumayan banyak. Dalam seminggu bisa 50 orang daftar kursus,” kata Dewi.

Untuk paket kursus yang ia tawarkan mulai Rp 150.000, tidak termasuk bahan baku aksesoris. “Kalau aksesoris bros yang saya jual segmennya high-end, lebih banyak ke bebatuan berkualitas A. Karena itu, harganya bisa mulai Rp 100.000,” terangnya.

Ia mengakui, harga aksesoris buatannya memang tak murah. Ini karena mengandalkan desain yang unik dan jenis bebatuan yang langka. “Dilihat dari karakter warga Surabaya ini, rupanya kurang minat terhadap harga, mereka maunya pokok murah. Beda dengan karakter warga Jakarta, kalau aksesoris harga ratusan ribu udah kaya kacang goreng penjualannya,” urai Dewi.

Modal awal ia menjalankan usahanya tak kurang dari Rp 10 juta. “Pasar aksesoris sudah mulai padat. Kalau kita bidik segmen yang pas memang modalnya harus kuat. Saat ini porsi penjualan saya lebih banyak ke kursus dan suplai bahan baku. Pembuatan aksesoris malah mulai berkurang dan mengandalkan order,” lanjutnya.

Untuk memperluas pemasaran produknya, Dewi bermitra dengan beberapa pihak. “Kalau cuma jual barang gampang. Pelanggan tetap kita sudah cukup banyak. Kita sudah bermitra dengan pihak di PTC dan Sun City,” imbuhnya.

Setelah usahanya berkembang luas, pihak perbankan pun akhirnya banyak yang melirik. “Untuk pengembangan usaha, saya dipinjami mulai Rp 100 juta, lalu naik jadi Rp 200 juta,” kata Dewi.

Perajin aksesoris lainnya Lilies Rolina mengungkapkan, pasar aksesoris masih terbuka lebar, meski saat ini perhiasan impor mulai membanjir dengan harga yang jauh lebih murah. “Karena itu, aksesoris buatan lokal kalau tak punya karakter bakal ditinggal pelanggan,” lanjut pemilik butik Liena Accesories di kawasan Candi Lontar ini.

Ia mengaku, awal berjualan aksesoris bros lebih didorong oleh hobi. “Iseng-iseng saya beli pas jalan-jalan di Solo, lalu saya posting foto-fotonya di facebook, eh ternyata banyak yang minat. Akhirnya saya hunting aksesoris yang murah lalu saya jual ke teman-teman,” kata lajang 26 tahun ini.

Setelah beberapa bulan berjualan, ia menjajal merangkai sendiri dengan mencontoh model di internet dan di beberapa butik. “Sampai saat ini selain menjual aksesoris bros rangkaian sendiri, saya juga berjualan aksesoris impor Korea dan China. Yang banyak diminta tipe jurai-jurai dari bahan manik-manik yang blink-blink,” sambung Lilies.

Menurutnya, orderan terbanyak melalui facebook berasal dari Jakarta dan Jawa Tengah. “Sekali order bisa 2-3 lusin, karena ternyata mereka jual lagi,” katanya.

Harga aksesorisnya beragam, untuk bros mulai Rp 15.000. Bisnis aksesoris dinilai memiliki potensi cukup bagus. “Siapapun bisa melalukan. Tergantung segmen mana yang dibidik, pasti omzet yang datang akan lumayan,” lanjutnya.

Modal awal ia membuka usaha sekitar 1,5 tahun lalu hanya Rp 500.000. “Modal itu diputar dan kini omzetnya bisa Rp 1 jutaan per minggu kalau pas ramai,” pungkas Lilies. surya.co.id

Sempat Dilarang Usaha, Kini Sehari Ciptakan 30 Item


Membidik pasar segmen wanita tentu bukan langkah yang salah. Pasalnya, hampir setiap wanita ingin terlihat lebih cantik dan modis. Ini pula yang disasar Oky Mia Octaviany, perajin aksesoris yang sukses masuk di segmen tersebut.

Saat ini, beragam aksesoris seperti, bros, gelang, tas, anting, serta hiasan jilbab buatannya, banyak dikenal pembeli baik dari Jatim, luar pulau, bahkan hingga pasar ekspor ke Arab Saudi dan Eropa.

Meski sebetulnya usaha yang ia jalankan berangkat dari kegagalannya merintis usaha sebelumnya. Wanita kelahiran Surabaya, Oktober 1971 lalu itu, memang pernah mencoba berbisnis makanan. Namun usaha itu ternyata hanya bertahan setahun. Itu membuat dia dilarang sang suami, Banyon Anantoseno, untuk menggeluti usaha.

“Saya pun merenung ternyata kegagalan itu akibat saya tidak suka masak. Oleh karena itu, saya mencoba menggeluti lading bisnis lain yang selama ini saya sukai,” papar Oky ditemui di rumah sekaligus workshop-nya di kawasan Sidosermo Surabaya.

Tahun 2000, ia secara diam-diam mencoba memulai usaha kecil-kecilan. Dengan modal hanya Rp 500.000, ia mengutak-atik aksesoris yang ia beli dan ia sesuaikan atau pasangkan dengan aksesoris lain atau busana yang dipakai.

“Apalagi saya yang mengenakan jilbab ingin tetap tampil modis. Alasan ini memacu saya untuk menciptakan aksesoris yang bisa dipakai oleh perempuan berjilbab. Saya kemudian mencoba membuat kalung dari bebatuan,” ungkap ibu dua orang putra ini.

Ternyata usaha coba-coba ini mampu membuat teman-temannya tertarik dan mulai banyak yang memesan. Ia pun memutuskan menekuni usaha tersebut, termasuk mulai berani terbuka pada sang suami. Dukungan suami, membuat Oky berani memberi label ‘Peniti’ pada produknya.

“Sebetulnya sudah banyak produk aksesoris di pasar, namun produk yang saya bikin lebih fokus ke bahan batu-batuan, mutiara, manik-manik, bambu patah, hingga kristal swarovski,” ulas Oky, yang kini usahanya merambah ke usaha busana muslim.

Untuk memperkaya model dan desain, hampir setiap minggu Oky keluyuran ke mal-mal di Jakarta dan Surabaya. Menurutnya, menciptakan model yang disukai konsumen dan unik sangatlah penting, apalagi saat ini banyak aksesoris-aksesoris dengan harga terjangkau dari China.

Dalam sehari, Oky mampu menghasilkan 25-30 item aksesoris. Untuk satu item aksesoris, rata-rata membutuhkan biaya Rp 1.000-100.000, tergantung bahan dan kesulitannya. Dari ongkos produksi tersebut ia bisa mendapatkan keuntungan antara 30-50 persen.

Oky menjual aksesoris dengan harga yang beragam. Yang paling murah anting Rp 1.000 hingga yang termahal paket aksesoris gelang-anting-kalung-bros-sepatu-tas seharga Rp 1,5 juta. “Kalau yang paket seperti itu paling banyak dibeli untuk peningset pernikahan,” jelas Oky yang mengaku mampu meraih omzet Rp 5-10 juta per bulan.

Meski sukses, toh Oky tak mau sekadar memburu rezeki saja. Ia pun berbagi ilmu dengan meluangkan waktu dengan mengajar privat kalangan wanita yang ingin menjalankan usaha aksesoris. Itu dilakukan baik di rumah maupun atas permintaan instansi-instansi.

Selain itu, ia juga menulis buku berjudul ‘Cantik & Gaya dengan Bros’, serta ‘Cantik dengan Rangkaian Manik dan Batu’.

Mudah Membuat Bros
Anda yang suka mengutak-atik aksesoris jenis bros, sebetulnya tak sulit membuat tampilan aksesoris yang terlihat beda saat dikenakan. Selain untuk memulai usaha kecil-kecilan, hasil karya ini juga bisa untuk koleksi sendiri.
Karena aksesoris ini terbuat dari sebuah rangkaian, perlu diperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan bros di antaranya:
- Pemilihan material gunakan bahan seimbang dan serasi antara ukuran dan warna
- Pemakaian material berbentuk unik bisa menambah keindahan bros
- Bila menggunakan satu warna, buat kreasi yang lebih unik agar keindahan bentuknya menonjol
- Jika menggunakan warna beragam, perlu mengetahui golongan atau kelompok warna
- Penempatan peniti pada bros harus lurus, sehingga menjadikan bros seimbang dan tegak jika dikenakan
- Untuk rangkaian bros ukuran besar, perlu diperhatikan penempatan peniti, agar bros tak terlihat jatuh akibat material yang terlalu berat.

http://www.surya.co.id

Wadahi UKM Pemula


Tak sedikit pelaku usaha kerajinan yang dikenal kalangan luas setelah berani menjual produknya di pusat-pusat perbelanjaan. Tak sedikit pula masyarakat yang mendapatkan ide dari melihat atau membeli barang-barang yang ditawarkan UKM di mal.

Nah, kepedulian pusat perbelanjaan inilah yang diwujudkan Royal Plaza Surabaya terhadap kreasi perajin di Jatim. Saat ini, paling tidak terdapat dua lantai di pusat perbelanjaan itu yang sebagian besar dipenuhi pelaku UKM.

Manager Promosi Royal Plaza Surabaya Vicky Ratih mengatakan, sejak pusat perbelanjaan ini dioperasikan, pihaknya bertekad untuk mewadahi pelaku UKM agar produknya dikenal.

“Awalnya memang kami bekerja sama dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Surabaya, mereka aktif memberi pelatihan dan menyewakan stan bagi UKM anggotanya,” papar Vicky.

Tak disangka, produk yang dihasilkan UKM mendapat respon positif dari pengunjung. Banyak pihak pun berpendapat bahwa lokasi tersebut cukup potensial untuk memajang produk UKM. Sebagian besar produk yang dijual adalah kerajinan souvenir, pernik-pernik, serta aksesoris.

Kondisi itu membuat sejumlah dinas di pemerintahan yang terkait dengan sektor UKM dan ekonomi, bahkan sejumlah perusahaan BUMN ikut menyewa beberapa stan. Mereka rata-rata memberi kesempatan anggota UKM binaan untuk menampilkan produknya secara bergantian setiap beberapa bulan sekali.

“Memang ada harga sewa khusus yang relatif lebih murah untuk stan UKM ini, baik yang perseorangan atau dinas dan perusahaan. Ini agar mereka terpicu untuk berkembang, namun juga tetap ada tanggung jawab untuk tetap berjualan karena ada kewajiban sewa,” ulas Vicky.

Upaya ini kian lengkap dengan dukungan Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Surabaya yang secara rutin mengajak kelompok masyarakat di tingkat kelurahan atau kecamatan untuk dilibatkan dalam sejumlah pelatihan yang digelar di Royal Plaza.

Mereka juga diberi kesempatan sekitar sepekan untuk memajang hasil karyanya di outlet. “Perkembangannya, kini banyak pelaku UKM yang semula usahanya hanya sebagai sampingan tapi berubah menjadi usaha penopang keluarga,” ungkapnya. surya.co.id

Menjala Laba Olahan Bandeng


Siapa yang tak suka ikan. Selain enak dimakan, hewan air ini memiliki kandungan gizi yang cukup banyak. Ikan juga bisa diolah menjadi beragam makanan. Demikian juga bandeng. Salah satu komoditas andalan Jatim ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk beragam menu dan jenis makanan.

Tak hanya itu, olahan bandeng juga mampu menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Ini karena konsumen atau penggemar olahan bandeng tak pernah sepi. Ny Iswindari misalnya, warga Pulosari, Surabaya ini, boleh dikata hampir setiap pekan selalu berburu makanan bandeng. Entah itu bandeng goreng atau diolah menjadi menu lain yang banyak dijajakan di sejumlah toko oleh-oleh di Sidoarjo dan Gresik.

“Keluarga saya memang penyuka bandeng. Tak jarang kami membeli olahan bandeng, seperti bandeng asap, bandeng presto, otak-otak bandeng atau lainnya,” ulas ibu dua anak ini.

Bahkan, ia sering menjadikan olahan bandeng ituuntuk oleh-oleh atau bekal makanan ketika pergi ke luar kota. “Praktis, dan bisa tahan hingga beberapa hari,” beber Iswindari.

Banyaknya konsumen memang tak lepas dari beragam ide kreatif pelaku usaha bandeng. Salah satu yang memanfaatkan olahan bandeng adalah Djalil. Bersama istrinya, Sutini, pria yang tinggal di Bulu Sidokare, Sidoarjo ini, sudah 20 tahun menggeluti usaha bandeng asap. Bandeng asap merupakan salah satu oleh-oleh khas Sidoarjo.

Disebut bandeng asap karena makanan ini dibuat dari ikan bandeng yang dimatangkan dengan cara diasap. Di rumah yang sekaligus dijadikan tempat produksi dan penjualan, rata-rata Djalil mampu memproduksi 60 ekor per hari. Jumlah itu biasanya langsung habis terjual, karena pria 60 tahun ini hanya memproduksi berdasar pesanan.

“Saya sengaja tak menyetok untuk penjualan, karena saya ingin bandeng asap saya terus fresh. Demikian juga banyak permintaan dari toko, namun saya tak mau kalau hanya sekadar konsinyasi. Meski hanya mengandalkan pesanan, Alhamdulillah ada saja permintaan setiap harinya,” papar pria yang memiliki 4 anak dan 4 cucu ini.

Untuk menjaga kualitas produk dan rasa, Djalil sengaja terjun sendiri mulai pemilihan ikan, pembersihan sisik dan insang hingga pengasapan. Ia pun belum berani mengangkat tenaga kerja.

Ukuran standar yang ia pilih biasanya bandeng mentah dengan berat 0,5-0,6 kilogram per ekor. Untuk pengasapan, ia sengaja membuat oven besar yang mampu dimasuki 50-60 bandeng secara menggantung. Di ujung oven diberi cerobong untuk jalan keluar asap. Pengasapan biasanya dilakukan selama 4-5 jam.

Djalil biasanya menjual bandeng asapnya dengan harga Rp 48.000 per kilogram. Ia juga menyertakan saos yang terbuat dari kecap dan petis. Pembeli bandeng asap olahan Djalil tak hanya dari Sidoarjo dan Surabaya saja, namun banyak juga dari luar kota dan luar pulau. Bahkan, sebagian adalah pesanan dari pelanggannya di Australia, China, hingga Singapura.

“Saya ingin terus mempertahankan usaha ini sebagai produk khas Sidoarjo. Untungnya keluarga juga mendukung, bahkan anak-anak mulai merintis beberapa kreasi produk kerupuk berbahan bandeng dan bahan lainnya,” jelas Djalil.

Selain olahan asap, bandeng juga dibuat kreasi yang lebih modern, yakni crispy. Sulaihan adalah sosok yang sukses mengenalkan olahan ini. Bahkan, produk bermerek ‘Maharani Crispy’ ini telah memiliki pelanggan dari berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Mojokerto, Nusa Tenggara, Bali, Balikpapan, bahkan Singapura.

“Sebagian besar pembeli memesan untuk oleh-oleh. Jadi saya sering mengantar pesanan ke bandara, sehingga bisa langsung dibawa,” kata Sulaihan, ditemui di rumah sekaligus tempat produksinya di Kalanganyar, Sedati.

Bandeng crispy tak beda dengan makanan crispy lain, seperti ayam crispy. Yang membedakan hanya bentuk, bumbu atau rasa, serta tingkat kerenyahannya. Keunggulan lainnya, bandeng crispy buatan pria 45 tahun ini tanpa duri.

“Duri bandeng harus dicabut dulu sebelum diolah. Memang usaha kita awalnya adalah memasok bandeng tanpa duri ke sejumlah restoran dan pabrik. Empat tahun belakangan ini mulai dikembangkan ke olahan,” ujar ayah dua anak ini.

Dibantu empat orang tenaga kerja, Sulaihan bersama istrinya Dwi Ernie, rata-rata mampu memproduksi sekitar 50 kilogram bandeng segar tanpa duri setiap hari. Tak hanya bandeng crispy, ia juga mengolah bandeng tanpa duri tersebut untuk beragam makanan mulai bandeng presto, otak-otak bandeng, penyet bandeng, hingga bakso bandeng.

Sisa duri tak dibuang begitu saja, namun ia manfaatkan dengan diolah sebagai abon. Produk abon duri bandeng yang ia namai abon kalsium ini memang murni kreasi ciptaannya dan belum ada pemain lain. “Kita memang ingin mengangkat citra bandeng sebagai makanan khas Sidoarjo agar memiliki nilai tambah,” ulas pemilik UD Hikmah Artha Makmur ini.

Bandeng crispy olahannya, biasanya dijual Rp 25.000 per ekor/bungkus, sedang otak-otak bandeng dijual seharga Rp 10.000-20.000 per bungkus.

Beragam produknya mulai dikenal luas sejak ia dilibatkan dalam berbagai pameran yang digelar oleh Dinas Kelautan dan Peternakan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim. Karena dianggap memiliki prospek pasar, ia pun mendapat kucuran kredit dari salah satu bank BUMN.

“Selain modal kerja, bantuan kredit itu untuk pengembangan usaha. Karena kami juga mengelola sebuah rumah makan di ruko Juanda Business Center,” ungkap Sulaihan.

Ke depan, ia berobsesi terus menciptakan berbagai produk dari bahan bandeng, selain memperluas jaringan pasar. “Ada investor yang men-support dan tahun ini juga kemungkinan kami membuka dua outlet di Surabaya,” imbuhnya. surya.co.id

Jalan Dua Tahun, Kini Minimal Produksi 100 Kotak Per hari

Bisnis roti lapis legit memang sudah menjamur. Hampir di setiap kota, roti ini bisa dijumpai. Namun, di setiap daerah lapis legit menawarkan citarasa yang berbeda-beda. Tergantung inovasi si pembuat roti.

Di Surabaya, ada banyak pelaku usaha lapis legit mulai skala mikro sampai pabrikan. Olahan rasanya pun beragam, demikian pula adonannya. Ada yang dicampur rasa durian, cokelat, kismis, kacang almond, strawberry. Lapit legit pun menjelma ke dalam berbagai varian rasa.

Salah satunya dilakoni Sukirno, 32, warga Menanggal Surabaya ini. Keahlian membuat lapis legit, awalnya ia dapatkan ketika bekerja di Jakarta.

“Saya ikut usaha perorangan yang khusus bikin lapis legit selama lima tahun di Jakarta. Setelah saya merasa mampu berdikari, saya memilih keluar dan mendirikan usaha sendiri bersama teman-teman asal Purwokerto yang juga merantau di Jakarta,” kata Sukirno, Jumat (17/9).

Dua tahun silam, bermodal Rp 45.000 setiap orang, ia bersama tiga kawannya yang lain menjajal mendirikan usaha bersama di bidang pembuatan lapis legit. “Kebetulan istri saya juga di Surabaya, teman-teman yang lain juga demikian. Jadilah usaha patungan itu,” lanjut kelahiran Purwokerto 24 April 1978 ini.

Ia sengaja kerja patungan lantaran waktu itu kurang pede untuk memutar roda usahanya sendiri. “Inti bisnis saya yang besar justru bikin pigura gelas. Ordernya sudah kemana-mana. Tapi karena terus surut maka banting setir ke lapis legit. Kebetulan, saya pernah bekerja di home industry lapis legit juga,” kata suami Yuni Wahyuningsih ini.

Model pemasarannya tidak melalui toko dan supermarket melainkan ke perkantoran, rumah sakit dan keliling perumahan door to door. “Kalau dititipkan ke toko, modalnya tidak bisa langsung dipakai beli bahan karena harus nunggu dagangan laku baru kita dibayar,” ujar Sukirno.

Agar usaha kuenya terus berputar, akhirnya ia bersama tiga rekannya Yono, Hartono dan Yanto, menjalin kerja sama dengan dinas-dinas. “Kalau ada acara, pemesanannya melalui kita. Alhamdulillah, pemasaran dengan cara ini cukup lancar,” jelas Sukirno.

Hingga kini, belum ada niat pada dirinya maupun rekan-rekannya untuk mendirikan outlet mandiri saat ini. “Modalnya belum cukup. Investasinya besar. Sebut saja, sewa outlet di Alfamart atau Indomaret per bulannya Rp 350.000, sewa di Carrefour atau Giant malah Rp 3,5 juta,” lanjutnya.

Cara yang dilakukannya selain memasarkan ke instansi, ia menerima order dari orang-orang untuk lapis legit bermerek. “Misalnya kita suplai lapis legit tanpa merek, lalu orang itu memberi merek sendiri. Untuk ukuran 17,5×17,5 cm kita jual seharga Rp 15.000. Masa kedaluwarsanya lima hari,” ungkap Sukirno.

Saat ini, ia sudah memekerjakan enam orang karyawan yang direkrut dari warga sekitar di kawasan rumahnya. Ada yang bertugas mencampur adonan, mengolah hingga finishing.

Dengan tenaga kerja ini, setidaknya minimal ada 100 kotak kue lapis legit yang bisa ia produksi dalam sehari. Soal rasa, Sukirno lebih memilih rasa original. Terkecuali ada pesanan dengan tambahan kismis atau cokelat.

Untuk pemesanan dalam jumlah besar, ia mematok minimal dalam jangka waktu tiga hari ia baru menyanggupi. “Kebetulan selama H-7 hingga H+7 Lebaran kita libur, mau istirahat, minggu depan akan produksi kembali,” yakinnya. surya.co.id

Selasa, 23 November 2010

Aman, Makan Lebih Enak

Bandeng adalah ikan yang sangat digemari. Rasanya yang khas, serta harganya yang murah membuat ikan ini banyak dilirik untuk dikonsumsi. Namun, disamping rasa yang enak, bandeng memiliki duri yang cukup banyak.

Agar kita mudah memisahkan duri dari dagingnya, sebelum disiangi tarik ikan itu sampai berbunyi “krek” (dipegang dikepala & ekornya, terus ditarik). Durinya akan terkumpul didekat kulitnya.

Selain ditarik sampai bunyi “krek” ada cara lain, yaitu ikan bandeng disayat melintang dari ujung kepala sampai ekor. Buat sayatan yang dalam dan jaraknya serapat mungkin ( 0.5-1cm). Baru setelah itu dibumbui dan dimasak sesuai selera. Dijamin… duri hilang, tinggal duri tengahnya saja.

Saat ini bandeng bsia disajikan dengan berbagai macam cara, mulai digoreng biasa, diasap atau dimasak menggunakan panci presto hingga duri-duri yang bertebaran lunak seketika.

Bagaimana memilih bandeng yang kondisinya bagus dan masih segar? Ciri cirinya adalah:

1 Bau Bandeng masih terasa segar, khas bau ikan.

2 Sisik Masih utuh, melekat kuat, tidak terkelupas, tertutup lender bening.

3 Mata/kornea bening dan agak menonjol/cembung.

4 Insang berwarna merah sampai merah tua, cemerlang, tidak berbau.

5 Kulit cemerlang, warnanya kontras dan tidak pudar.

6 Daging masih elastis, apabila ditekan segera kembali.

Selain itu, ada cara mengatasi bau lumpur pada ikan empang (bandeng, mujair, mas, patin) goreng. Yaitu, ketika hendak mulai menggoreng masukan dulu 1-2 lebar roti tawar kedalam minyak, baru kemudian masukkan ikan, lalu goreng seperti biasa hingga matang. surya.co.id

Kue Kering, Renyah di Mulut Ringan di Kantong



Berlebaran tanpa kue kering rasanya tak afdol. Tradisi bertahun-tahun, suguhan kue kering menjadi wajib ada di tengah kebersamaan keluarga, saudara, teman dan tetangga, saat merayakan hari nan fitri. Penjual kue-kue kering pun memanfaatkan momen ini untuk meraup rupiah.

Bagi Sulastri, 29, tradisi membeli kue kering Lebaran sudah turun-temurun dilakukan keluarganya sejak ia masih kecil. “Saya sudah punya langganan sendiri, tetangga saya di daerah Bronggalan Sawah. Perpaduan resep kuenya pas. Meski harganya agak sedikit mahal dibandingkan yang dijual di toko, tapi rasanya memang lebih enak,” kata karyawan sebuah perusahaan kontraktor ini.

Sekali borong minimal Rp 500.000 terdiri dari beberapa item kue. “Kebetulan saya keluarga besar, jadi ada yang saya konsumsi sendiri dan ada yang saya berikan keluarga suami. Saya tinggal di rumah ibu dan ibu saya anak sulung, sementara saya anak bungsu pasti ramai kalau Lebaran,” ujar ibu dua anak ini.

Kebutuhan kue kering tidak saja dipakai hanya saat Lebaran, tapi memasuki Ramadan sudah mulai dikonsumsi untuk buka puasa dan camilan makan sahur. “Jadi, saya sudah beli sejak minggu lalu. Selain pesan tetangga, ada juga yang saya beli di Pasar Atom. Belanja banyak tak apa, karena menyenangkan orang kan bisa menyenangkan diri sendiri,” ucap Sulastri sumringah.

Salah satu pembuat kue kering adalah Hasti Utami, pemilik Bunga Bakery. Semula, menurut pengakuannya, kue kering buatannya tidak untuk dikomersialkan. Kue-kue itu khusus untuk konsumsi sendiri bersama keluarga.

“Tapi, karena banyak yang menyarankan akhirnya iseng-iseng saya tawarkan ke tetangga dan teman-teman di lingkungan kerja. Ternyata permintaannya diluar dugaan. Kue saya banyak dipuji,” aku wanita kelahiran Jember, 29 Agustus 1981 ini.

Namun, tidak seperti kue kering pada umumnya, kue buatan Hasti terbilang unik. Mengangkat tema scary cake yakni berupa kue-kue kering horor macam bentuk tengkorak, pemakaman, jari berdarah, pocong, dan lain-lain.

“Saya ingin beda saja. Selama ini kue Lebaran bentuknya kan gitu-gitu aja. Keponakan saya iseng nyuruh saya bikin kue yang aneh-aneh. Maka muncullah ide ini,” kata wanita yang baru saja resign dari perusahaan tepung terigu.

Modal awalnya cuma Rp 3 jutaan. Ia tak perlu beli peralatan dan perlengkapan untuk membuat kue karena semua dipinjami para pelaku UKM kue binaan perusahaan tempat ia dulu bekerja. Kebetulan saat itu, ia di posisi Customer Relation UKM.

“Saya hanya bikin kue pas Lebaran karena diluar masa itu saya ngurusi pekerjaan kantor. Sekarang promosinya terbantu lewat facebook jadi pemesanannya lebih luas. Tapi ya gitu, saya jadi pusing banyak menerima pesanan, sementara jumlah tenaga terbatas,” sambung alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Jember ini.

Bahkan, ia sengaja pasang harga mahal saat iseng promosi di jejaring sosial. Per toples ukuran 500 gram harganya mulai Rp 60.000. Semakin rumit bentuk kuenya, semakin mahal harganya. Ini karena kuenya harus dibuat satu per satu secara manual dengan tangan. “Kalau dengan alat cetak kan gampang, nah ini dibentuk satu per satu pakai tangan,” terang Hasti.

Ibu satu anak inipun tak khawatir kue horornya tak laku. “Meski ibu saya saja nggak mau makan, tapi terbukti banyak pemesan. Bahkan orang-orang dari luar negeri juga ada yang pesan, tapi untuk dikirim ke teman dan saudara mereka yang ada di Indonesia. Ini berarti potensi pasarnya bagus,” timpal Hasti. Omzet jualan kue menjelang Lebaran pun ditaksir tak kurang dari Rp 20 juta.

Pelaku UKM lainnya, Noor Shobah juga mengamini jika bisnis kue kering mendekati Lebaran sangat menguntungkan. “Diluar Lebaran, saya tidak jualan. Saya bikin dadakan memasuki bulan puasa. Sejak 2002 ketika tinggal di Jakarta saya sudah bikin, tapi brownies kering dengan topping cokelat. Dipasarkan ke teman-teman sendiri,” akunya.

Namun sejak pindah ke Surabaya, wanita kelahiran Lamongan 8 Juli 1974 ini berniat serius menekuni usahanya dengan mengambil kursus cake di kawasan perumahannya di Sidoarjo. “Keahlian saya bikin cake, tapi akhirnya saya pilih kue kering karena penjualannya lebih cepat,” lanjut mantan Guru Bahasa Indonesia SMP dan SMA ini.

Noor yang dulu menempuh pendidikan di IKIP Malang Jurusan Bahasa Indonesia ini mengaku, awal usahanya membuat kue sempat berkali-kali gagal resep. “Saya banyak mengoleksi buku resep kue, saya coba kalau gagal saya makan sendiri dan diberikan tetangga. Kalau sudah berasa enak barulah saya jual. Biasanya ke teman-teman kantor suami saya,” urai ibu seorang putri ini.

Dari modal awal Rp 500.000, sekarang omzetnya bisa tembus puluhan juta. Per hari, pemilik kue merek Bunda ini bisa bikin 20 toples kue dengan memanfaatkan 5 kilogram tepung terigu.

“Impian saya, saya ingin buka toko bahan kue atau penyalur bahan kue. Jadi, tidak sekadar jualan kue tapi suplai bahan. Karena jika bahan baku bisa murah maka perolehan marjin bisa lebih besar. Toko kecil-kecilan lah, tapi itu nanti kalau sudah ada rezeki karena investasinya minimal Rp 50 juta,” pungkas Noor. surya.co.id

Ubah Bentuk, Antarkan Jajanan Pasar Masuk Hotel


Puluhan tahun lalu kue tradisional atau akrab disapa jajanan pasar hanya bisa ditemui di pasar-pasar tradisional atau pinggiran jalan. Namun seiring inovasi yang dilakukan pecinta kuliner makanan, jajanan sederhana itu mulai terangkat derajatnya, menjadi suguhan resmi pejabat dan tamu-tamu penting, yang otomatis ikut mengerek harganya.

Sosok Winarni Boediman atau yang akrab disapa Ny Yasin Zein adalah sosok di balik itu. Ide untuk mengangkat citra kue-kue tradisional, seperti kue bugis, getas, hunkwee jagung, jongkong Bangka, ongol-ongol, nogosari, talam pisang, putri mandi, lapis coklat dan lainnya, muncul setelah ia menetap dan tinggal di Surabaya, sekitar tahun 1960-an.

Lahir di Bangka Belitung tahun 1937, Winarni kecil memang telah tertarik membuat kue-kue tradisional, karena sering membantu tetangganya yang hajatan. Kegemaran itu terus diasahnya meski ia hijrah ke Surabaya. Berbagai kursus pun ia ikuti.

“Di Surabaya saya bersama bapak membuat dan menjajakan sendiri kue tradisional, khususnya kue mangkok ke kampung-kampung dan pasar, seperti pasar Genteng. Jadi sebenarnya, sejak puluhan tahun lalu saya tetap fokus di kue tradisional,” papar Ny Yasin, yang saat itu tinggal di kawasab Kedung Sroko.

Ada alasan tersendiri mengapa ia lebih memilih kue tradisional. Baginya, selain memiliki banyak jenis kue, bahan yang bisa dibuat cukup mudah didapat dan rasanya tak kalah dengan kue atau roti dari mancanegara. Ia juga tak ingin masuknya makanan asing membuat anak cucunya lupa akan jajanan asli Indonesia.

Ia mengakui, banyak kue tradisional yang dipasarkan oleh sejumlah pedagang kecil. Namun Ny Yasin melihat banyak hal yang harus dibenahi dan butuh inovasi baru agar kue-kue itu bisa diterima semua kalangan.

“Dulu bentuk kue tradisional kita sederhana banget, besar-besar, sehingga pembeli kurang tertarik. Oleh karenanya, saya berpikir, bagaimana jika jajanan itu dibuat yang pas untuk dinikmati, tampilan dan kemasan dibuat lebih cantik, pasti siapapun akan suka,” ungkap Ny Yasin, yang didampingi putra ketiganya Fendi Zein.

Trik itu ternyata cukup jitu. Buktinya, kue-kue buatannya kian laris di pasar, bahkan banyak teman dan kantor-kantor memesan. Tak puas sampai di situ, untuk lebih memperkenalkan kue tradisional dan kreasinya, ibu 4 anak ini aktif mengikuti berbagai lomba membuat dan mengkreasi kue yang sering digelar di sejumlah kota. Hasilnya tak mengecewakan karena ia sering memenangi lomba.

Bahkan karena kegigihannya pula, dia mendapat penghargaan mulai dari almarhum Mohammad Noer hingga Soelarso saat menjadi Gubernur Jatim, maupun dari pejabat lainnya. “Pemprov Jatim sangat peduli sekali dengan makanan khas dan tradisional. Salah satu yang tren adalah tumpeng kue,” ujarnya.

Sejak itu pula, Ny Yasin sering mendapat pesanan dari kalangan pejabat negara, bahkan menjadi hidangan resmi setiap ada tamu negara, presiden, dan warga asing. Dia juga bersyukur, kini kue tradisional diterima di masyarakat, bahkan banyak produsen dan pedagang kue di sejumlah kampung dan ruas jalan di Surabaya.

Kini usaha kue Ny Yasin telah dikenal luas. Tak kurang dari 100 item kue dibuat dan diciptakan. Meski basisnya tetap kue tradisional, namun ia berupaya berkreasi sendiri, seperti kue klepon yang ada pilihan bahan ketan dan ketela ungu, juga nasi uduk yang dibuat mirip lemper, singkong keju, atau kue tok yang dicetak mirip jambu. Harga yang dipatok cukup terjangkau, mulai Rp 3.250 hingga Rp 7.500 per biji.

Tak hanya itu, kemasan dan sajian pun ia kreasi, misalnya dalam bentuk hantaran atau baki hias, juga tumpeng kue. “Saat ini kami dibantu sekitar 15 orang tenaga kerja dengan rata-rata mampu menjual 500-750 biji kue per hari. Kita hanya mengandalkan gerai di rumah ini, juga satu gerai kecil di Galaxy Mal,” jelas Ny Yasin ditemui di rumahnya di kawasan Dharmahusada Indah Utara I.

Karena tiap hari harus menyediakan banyak macam kue, selain dibuat sendiri di rumahnya, beberapa jenis kue juga dibuat di rumah anak-anaknya. “Jadi kita sub-kan di anak-anak. Hanya satu pesan saya, harus gunakan bahan berkualitas terbaik. Jangan yang KW-2, juga jangan memakai bahan pengawet,” sarannya, yang mengaku masih mengandalkan dana sendiri untuk usahanya.

Ke depan, ia berobsesi bisa mendirikan semacam pusat jajanan tradisional di Surabaya, yang bisa menjadi jujugan semua segmen masyarakat. “Masyarakat menengah bawah hingga atas bisa nyaman singgah, baik dibawa pulang maupun makan di tempat. Tentunya ini akan menjadi sebuah ikon baru di Surabaya,” tutur Ny Yasin. surya.co.id

Dari Susah Cari Modal, Sekarang Banjir Pinjaman

Bisnis kerajinan berbahan dasar kayu bisa jadi merupakan bisnis yang tak lekang oleh zaman. Kerajinan kayu memiliki segmen pasar yang cukup loyal. Inovasi dan keunikannya juga membuat produk kerajinan ini tetap diakui pasar.

Bagi Sumarwan alias Linggo, menekuni bisnis kerajinan kayu berawal dari kegemarannya melancong ke Bali. Dari sanalah ia terinspirasi untuk belajar ilmu mengolah kerajinan kayu.

“Awalnya cuma bikin cincin kayu, lalu gelang kayu, kemudian berkembang membuat wadah-wadah multifungsi dari kayu, serta aneka hiasan dari kayu,” ujar pria kelahiran Situbondo 36 tahun lalu, ditemui di sela Pameran Aneka Kerajinan Garmen dan Produk Kulit di Gramedia Expo, Kamis (26/8).

Biasanya, ide baru muncul setelah melihat bentuk kayu mentahnya. “Baru bisa diproses kalau sudah melihat model kayunya. Sebab tidak semua kayu cocok untuk dibuat cincin atau gelang atau wadah-wadah itu,” jelas bapak satu anak ini.

Khusus untuk wadah kayu biasanya dibuat dari kayu jati, ada pula yang dibikin dari kayu kelapa. “Ide biasanya muncul spontan. Kadang saya nyari dari internet, lalu saya terapkan di produk-produk,” paparnya.

Linggo, perajin yang memiliki galeri Mentari di Situbondo ini memulai bisnis kerajinan kayunya sejak 1996. Modal awalnya dulu cuma Rp 2 juta, kini omzetnya mencapai Rp 200 juta per bulan.

“Semunya melalui proses yang panjang, tidak instan. Jatuh bangun karena ditipu dan usaha nyaris gagal pun pernah saya lalui. Tapi saya yakin, bisnis ini potensi market-nya masih sangat besar. Terbukti, orderan saya tidak pernah berhenti,” ujarnya meyakinkan.

Linggo kini sudah memasarkan produk kerajinannya ke berbagai kota antara lain, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, Jakarta hingga Ambon. Wadah kayu multifungsinya tidak hanya untuk pajangan dan aksesoris, melainkan juga bisa sebagai wadah makanan.

“Dulu cari modal susah, tapi setelah usaha berkembang banyak pihak yang tertarik memberi pinjaman, mulai BUMN sampai perbankan. PTPN, Semen Gresik dan PLN di antaranya yang pernah mengucuri pinjaman bunga lunak dari dana PKBL sebesar Rp 15 juta. Tenornya cuma setahun, bunganya hampir tidak ada karena sangat kecil,” jelas Linggo.

Saat ini, Linggo memiliki 40 karyawan lepas yang siap membantu memenuhi orderannya. Tapi, kalau orderan melimpah tentu jumlahnya lebih banyak lagi.

“Ini karena saya bedakan antara karyawan yang bagian motong, bagian ngamplas, ngukir, dan ngecat. Mereka punya keahlian sendiri-sendiri dan garapan bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Itung-itung ikut mengkaryakan warga di kampung,” ujarnya sumringah.

Sayang, promosinya selama ini masih dilakukan secara manual, antarteman, kenalan dan melalui pameran. “Nantinya akan saya bikin website sendiri agar pemasarannya lebih luas. Namun tentunya saya juga harus memikirkan ketersediaan bahan bakunya. Kalau demand sudah tinggi, stok bahan baku tidak ada kan sayang juga,” kata Linggo.

Produk yang ia jual rata-rata harganya cukup terjangkau. Untuk wadah kayu biasa dijual Rp 30.000-40.000, untuk wadah kayu jati Rp 30.000-50.000, wadah kayu ukir Rp 75.000, telur hias dari kayu Rp 20.000, aneka gelang kayu Rp 3.000-20.000. “Tapi kalau belinya grosir tentu harganya akan lebih murah,” ucapnya.

Penjualan produk kerajinan kayu ini, diakuinya, tak banyak terpengaruh dengan dibukanya kran perdagangan bebas ACFTA. “Penggemar kerajinan kayu orang-orangnya cukup loyal. Meskipun ada sebagian orang Indonesia yang luar negeri minded, tapi jangan salah bahwa turis-turis asing juga sangat menyukai produk kerajinan kita. Sekali borong, jumlahnya sangat besar,” pungkas Linggo.

Menghias Untung dari Wadah Parcel


Ketertarikan konsumen terhadap parcel bukan terbatas hanya dari isi atau bagaimana pengemasannya. Kini, parcel tampil makin cantik berkat wadahnya. Alhasil, ragam wadah pun mulai diproduksi menggunakan bahan baku rotan, kawat, besi, hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang.

Usaha yang paling menggiurkan menjelang Lebaran sekarang ini, salah satunya adalah bisnis yang berhubungan dengan parcel. Setiap memasuki bulan Ramadan, produk atau kerajinan tempat parcel menjadi jujugan mereka yang bergelut di usaha pengemasan parcel.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan tren, wadah parcel tak lagi konvensional, baik bahan maupun modelnya. Kini, wadah parcel kian beragam, mulai dari rotan, kombinasi rotan dan besi, besi atau kawat, box kardus hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang.

Diana Sari, warga Ngagel Surabaya yang biasa menerima pesanan parcel mengaku, jauh sebelum bulan Ramadan ia telah berburu contoh-contoh wadah parcel yang akan ia tawarkan ke konsumen.

Menurutnya, ketertarikan konsumen terhadap parcel tak hanya dari keragaman isi saja, namun juga bagaimana pengemasan dan pemilihan bahan dari wadah parcel itu. “Kalau wadahnya biasa-biasa saja mungkin konsumen tak ada kesan terhadap orang yang dikirimi. Namun jika ada sesuatu yang baru atau menarik, pasti akan selalu diingat,” ujar wanita 35 tahun ini.

Ia pun kini mengoleksi puluhan wadah parcel yang siap ia isi dan kemas atas permintaan beberapa konsumen. Selain wadah dari besi yang dihias dengan kain cantik, ada juga permainan rotan dan besi yang cukup menarik. Tak sulit baginya berburu wadah parcel tersebut, karena di wilayah Surabaya banyak ditemui penjual baik yang membuka di stan-stan di pusat perbelanjaan maupun yang membuka toko musiman.

“Kalau wadahnya saja sudah bagus dilihat, kita akan semakin mudah menata produk yang akan kita isi. Namun kalau biasa-biasa saja, isinya yang harus kita percantik. Yang penting saling mendukung,” sergah Diana.

Memang, produk-produk inovatif itu tak lepas dari siapa kreator di belakangnya. Selalu menciptakan kreasi baru terhadap produknya juga terus digali Rouli Dame Marbun. Perajin tempat parcel dan souvenir ini sebenarnya baru serius menggeluti usaha ini dalam dua tahun terakhir. Namun hasil kreasinya telah menyedot banyak pembeli dari berbagai daerah tak hanya dari Jawa namun juga luar Jawa, seperti Kalimantan.

“Bahan yang saya pilih adalah permainan besi atau kawat yang dikombinasi kain blaco, serta dirangkai dengan permainan bunga buatan. Tentunya, saya memperbanyak model agar konsumen tak bosan dengan bentuk yang itu-itu saja,” papar Rouli yang menempel merek Keziazoe pada produknya.

Menurutnya, kerajinan wadah parcel itu sendiri merupakan pengembangan dari usaha pembuatan souvenir pernikahan yang sebelumnya telah ia geluti. Awalnya, ia hanya mencoba membuat beberapa contoh tempat parcel, wadah hantaran, penutup makanan dan keranjang tempat air minum ukuran gelas.

“Tak disangka banyak teman-teman yang tertarik dan beberapa pengusaha pembuat parcel juga meminta. Itu membuat saya kian terdorong untuk terus menciptakan model-model baru,” ujar ibu dua putra kelahiran November 1976 ini.

Inovasi yang diterapkan pada produknya itu ternyata juga mampu menarik perhatian salah satu bank BUMN untuk mengangkatnya menjadi mitra binaan, tahun lalu. Kini, seiring dengan mulai ramainya pesanan ia memilih menyewa sebuah stan di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya agar lebih dikenal.

Soal produksi, Rouli masih mampu melakukan sendiri pembuatan kerajinannya di sela kesibukan sebagai karyawan di salah satu perusahaan kesehatan. “Namun kalau pas benar-benar mengejar deadline, saya juga dibantu keluarga. Dalam sehari saya mampu mengerjakan 5-6 piece,” ungkap istri Yono Soesilo.

Dengan harga jual mulai Rp 40.000-80.000 per piece untuk wadah parcel dan Rp 50.000-70.000 untuk keranjang air minum, rata-rata dalam kondisi normal omzet penjualannya di kisaran Rp 1,5-2 juta. Namun pada momen menjelang Lebaran seperti saat ini, omzetnya bisa menyentuh Rp 5 juta per bulan.

Memanfaatkan peluang pada momen-momen seperti Lebaran, juga dilakukan Mimi Jovita. Perajin yang memilih bahan baku kertas duplex yang dibalut dengan beragam kertas karakter seperti kertas buram (merang), kertas batik, hingga kertas limbah ini mengaku cukup kewalahan memenuhi permintaan wadah untuk parcel dan bingkisan.

“Box untuk bingkisan perlengkapan ibadah, kue kering, baju, banyak diburu menjelang Lebaran. Konsumen kebanyakan tertarik dengan tampilan dan kemasan dari box yang saya buat,” ujar wanita 28 tahun ini.

Menurutnya, awal ia mulai menekuni usaha itu muncul ketika ia belajar membuat kerajinan daun kering. Ia pun ingin sesuatu yang beda dengan memanfaatkan media kertas yang sangat mudah didapat dan harganya pun terjangkau.

Lambat laun hasil karyanya mulai mendapat tempat, hingga ia berani membuka stan di lantai dasar Royal Plasa Surabaya, dua tahun silam. Bahkan, ia juga telah menjadi mitra binaan bank pemerintah.

Kini, dengan dibantu 4 orang tenaga kerja, rata-rata ia mampu menghasilkan sekitar 40-50 piece kerajinan yang ia tempeli merek Chea Box itu. Produknya tak hanya diminati pembeli dari Surabaya dan Jatim saja, namun juga banyak permintaan dari Jakarta, Bali, hingga Kalimantan.

“Menurut mereka produk saya unik dan terbatas modelnya karena buatan tangan, harganya juga terjangkau yakni di kisaran Rp 15.000-90.000 per piece,” ujar ibu satu anak ini.

Ke depan, ia berusaha untuk terus mengembangkan kreasi tersebut, dengan menggali desain-desain terbaru dan bahan yang lebih beragam. Baginya, produk tangan tak pernah mati, karena memiliki keunggulan pada keunikan dan harga yang murah. surya.co.id

Tumbuh dari Modal Awal Rp 10.000 dan Semangat Rock


Kecintaan pada musik rock tidak hanya mendorongnya menjadi musisi. Tapi, justru membentuknya menjadi pengusaha distributor outlet (distro) yang menjual aneka aksesoris berbau rock. Kini dari usahanya ini, setidaknya pemasukan Rp 5 juta per bulan bisa dikantongi.

Profesi musisi dan pengusaha bisa berjalan seiring. Ini setidaknya dibuktikan oleh Budho Adhi Sadharmo, 31, yang akrab dipanggil Bodhas. Tidak hanya berhenti sebagai musisi, sejak usia muda ia sudah melirik usaha toko yang menjual aksesoris berbau rock.

Salah satu pentolan grup band Devadata ini pun nekat merintis usaha ini hanya dengan bermodalkan uang senilai Rp 10.000. “Pertama kali coba-coba usaha tahun 1999, dengan modal Rp 10.000 beli bahan gelang karet hitam rol-rolan terus saya potong-potong sendiri, dimodifikasi, lalu saya jual,” kisah Bodhas.

Gelang karet hitam itu dijual dalam kemasan plastik berisi sepuluh buah dengan harga Rp 6.500 per bungkus. Gelang yang menjadi aksesoris penunjang penampilan ‘rocker’ itupun laris manis. Keuntungan yang didapat selanjutnya diputar dan digunakan jadi modal kembali.

Bodhas juga mulai mengembangkan karyanya, dengan membuat aksesoris beragam mulai gelang dari bahan karet, imitasi dan kulit, ikat pinggang, serta merambah sablon kaos dan bandana (scraft). “Ya awalnya semua dijual ke komunitas pecinta music rock Surabaya,” ujarnya.

Tak diduga, usaha yang dirintis 11 tahun lalu itu terus berkembang dan melahirkan toko/distributor outlet (distro) dengan nama DAS Rock Merch. Setidaknya, per bulan Bodhas mampu mengantongi Rp 5 juta dari usahanya ini.

Ia menuturkan, sampai saat ini semua produk dikerjakannya sendiri. Mulai dari mencari bahan, pembuatan hingga penjualan. ”Saya potong-potong sendiri, saya beri sablonan merek dan variasi biar beda dan laku,” terang pemuda berambut panjang itu.

Perlahan tapi pasti, usaha Bodhas terus merangkak naik seiring keberadaan grup bandnya yang mulai diakui pecinta musik rock. Ia mencantumkan nama merek dagang, DAS, selain membuat aksesoris dan kaos khusus sebagai merchandise grup bandnya Devadata.

Dari semula menawarkan barang dagangan pada teman dekat, Bodhas mulai membuka lapak pada event-event musik dan pameran. Ia juga menitipkan produknya ke beberapa Distro di Surabaya dan kota lain.

“Pertama kali produk saya sempat ditolak, katanya sudah ada produk yang sama. Tapi saya tidak menyerah. Saya terus berkreasi hingga akhirnya mereka bisa menerima dan mau menjual produk saya dengan sistem konsinyasi,” beber Bodhas.

Langkah Bodhas dalam usaha produksi dan penjualan produk khas musik rock semakin mantap ketika angka penjualan terus meningkat. Produk DAS, khususnya kaos Devadata yang dibuat dalam jumlah terbatas, untuk setiap desain mulai banyak diburu.

Dengan bendera DAS, Bodhas ekpansi ke beberapa kota dengan menggandeng beberapa distro di Gresik, Jombang, Bali, Solo, Samarinda dan Kendari. Selain memenuhi pasar pecinta musik rock, Bodhas juga kebanjiran order pemesanan produk dari beberapa perusahaan yang jadi rekanan.

Sekarang ini, DAS tetap memproduksi dua hingga tiga desain kaos baru setiap bulannya. Tiap desain dibuat terbatas sejumlah dua lusin atau 24 pieces. Kaos-kaos yang merupakan  merchandise grup band Devadata itu dijual beragam dengan kisaran harga antara Rp 50.000 hingga Rp 85.000.

Pada 2008, anak ketiga dari empat bersaudara itu mulai membuka toko/distro di rumahnya di Jl Pakis Tirtosari III, belakang kampus Universitas 45. Produk yang dijual selain buatan sendiri, juga menampung beberapa produk rekanan.

Setidaknya ada ribuan item produk dijual. Hampir semua produk yang dijual berbau rock. Mulai dari aksesoris, kaos, jaket, tas, celana, boxer, sepatu, sandal hingga CD grup band yang diproduksi secara independent.

Untuk terus mengembangkan usahanya, Bodhas memiliki cara jitu guna merangkul penggemar Devadata dan pelanggan DAS. Sejak sebulan lalu ia membentuk komunitas, Devadata Army.

“Saya ingin merangkul teman-teman yang sudah mendukung selama ini dan membuat wadah yang menjadikan kami sebagai keluarga,” terang pemuda yang pernah kuliah di Unitomo dan Diploma Desain Grafis ITS itu.

Anggota Devadata Army akan mendapat beberapa keuntungan, seperti diskon khusus dan diajak mengikuti kegiatan gathering. Dengan jiwa dan semangat rock Bodhas mampu mengembangkan usahanya di balik eksistensi bermusik. “Sekarang usaha ini justru mendukung musik saya,” tegas gitaris, sekaligus vokalis Devadata itu.

Bukan hanya mendukung keberadaan band Devadata, DAS Rock Merch juga turut membantu membangkitkan semangat pecinta musik Rock. Kini, Bodhas mulai mengembangkan DAS Rock Merch menjadi sebuah event organizer dengan menggelar event-event musik rock. surya.co.id

Laba Produk Gaul Tak Pernah Gundul


Segmen anak muda merupakan pasar potensial. Ini diyakini benar oleh pelaku usaha yang menggarap produk-produk yang tidak sekadar menonjolkan fungsi, tapi juga selalu mengikuti tren yang berkembang. Produk itu di antaranya, t-shirt, topi, ikat pinggang, tas hingga aksesoris. Semua produk itu menjadi sasaran empuk pelaku usaha, dengan menghadirkan model yang pas dengan dunia remaja, gaul.

Salah satu remaja yang selama ini menggandrungi produk-produk gaul adalah Doni Peristiwanto. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya Timur ini hampir setiap bulan selalu berburu barang-barang yang dianggapnya menarik di sejumlah distro di Surabaya.

“Bagi saya, barang-barang di distro cukup berkarakter, dan memang hampir semua produk yang dijual menyasar ke anak muda. Saya sendiri banyak mengoleksi kaos, topi dan tas,” ujar remaja 19 tahun ini.

Selain model dan coraknya yang menantang, ketertarikannya pada produk gaul juga karena harganya yang relatif terjangkau dan sesuai dengan kantong pelajar dan mahasiswa. “Meski murah, kualitasnya tak kalah dengan barang bermerek,” ucap Doni.

Ketertarikan konsumen termasuk Doni tak ada apa-apanya tanpa keberadaan produsen dan pemasok produk gaul ke sejumlah distro atau gerai. Taufik Prasetya misalnya, selama ini dikenal sebagai salah satu produsen tas gaul yang banyak memasok produknya ke beberapa distro, grosir hingga gerai di Surabaya, Sidoarjo, Malang, bahkan luar pulau seperti Makasar dan Kalimantan.

“Saya fokus di tas karena pemain di produk ini untuk barang gaul yang masuk ke distro masih minim. Tas, bagi saya tak hanya menjual model, namun juga fungsi,” kata arek Surabaya 30 tahun ini.

Taufik menekuni usaha pembuatan tas sejak dua tahun lalu. Saat itu, ia diminta salah satu pemilik distro untuk membuat tas yang banyak digandrungi remaja, yakni tas slempang, selain tas punggung dan tas laptop dengan corak yang warna-warni.

Ada tiga merek yang saat ini telah dibesutnya, Dzhoof, Skulltoys dan Koazter Kidz. Masing-masing merek memiliki puluhan model. Paling tidak, Taufik mampu menciptakan tiga model dengan 6 corak setiap bulannya.

“Uniknya produk distro adalah kami berupaya untuk tidak memproduksi massal. Jadi terbatas. Ini yang membuat pembeli suka,” ungkap pria lajang ini, di workshopnya di kawasan Petemon Barat Surabaya.

Dengan harga yang dipatok di kisaran Rp 55.000-85.000 per piece, rata-rata ia mampu memproduksi sekitar 100-150 piece per bulan. Guna memenuhi permintaan pembeli, Taufik dibantu dua orang tenaga kerja.

“Kami menomorsatukan kualitas. Untuk pasar Jatim dan Indonesia Timur, kami berani bersaing dengan produk branded,” sebut Taufik yang mengungkap banyak permintaan melalui online.

Terkait pasar, Taufik menyebut masih cukup potensial, khususnya saat pergantian tahun ajaran baru di sekolah. Saat momen itu, omzetnya bisa naik dua kali lipat. Meski pasarnya telah jelas, toh dia masih berobsesi memiliki distro sendiri yang khusus memajang produk tas gaul.

“Di Surabaya belum ada distro yang khusus tas. Ini masih menjadi obsesi bagi saya,” imbuhnya.

Jual Desain

Produk lain ‘pengisi’ distro adalah kaos. Siapa lagi kalau bukan pelaku usaha kaos sablon.Meski pelakunya terus menjamur, namun omzet yang bisa direguk para pelaku usahanya masih memuaskan.

Ini diakui Abibayu Gustri Kamadjaja, pemilik merek kaos GaeKonTok. “Kalau membuka usaha kaos, maka juallah desainnya, jangan semata-mata kaosnya. Ini karena kompetisi di usaha ini sudah sangat ketat, kalau desainnya standar biasanya penjualan susah, tapi kalau unik pasti dicari,” jelasnya.

Sejumlah kaos merek lokal yang memiliki penetrasi pasar cukup bagus selama ini antara lain Cak-Cuk, Sawoong, Lapola. “Kalau di Jogja punya Dagadu, di Bali punya Joger, Surabaya punya merek-merek itu. Mereka diterima karena keunikan desainnya. Disini GaeKonTok menjadi pemain baru yang menjual desain kata-kata Suroboyoan,” jelas mahasiswa Jurusan International Business Management (IBM) Universitas Ciputra ini.

Produksi kaosnya baru dirintis sebulan terakhir menggunakan modal pribadi sebesar Rp 40 juta. “Sistem pemasarannya selain buka counter di Jalan Kayun, juga distribution point antara lain di Hotel Java Paragon, Mirota dan Cafe BlackBird Jl Imam Bonjol,” ungkap Abibayu.

Sekali produksi sampai 200 potong, dalam seminggu bisa laku 40-50 potong. “Saya belum punya mesin dan sablon sendiri, jadi masih kerja sama dengan pihak ketiga. Tapi belanja bahan dan ide desain dari saya,” ujarnya.

Pria kelahiran 28 Januari 1990 ini awalnya menggarap produksi kaosnya itu bertiga dengan temannya. Salah satu mata kuliahnya mendorong mereka berwirausaha. Namun akhirnya usaha itu dikembangkannya sendiri.

“Kita menggarap ide ini sejak semester tiga karena alasan mata kuliah juga. Bisnis merchandise kan masih jarang, jadi potensi pasarnya cukup bagus,” kata alumnus SMA St Louis ini.

Menurut Abibayu, kaos GaeKonTok menyasar segmen menengah atas. “Ini karena bahannya katun kualitas 1 seperti kaos-kaos Giordano, makanya harganya kita standarkan semua Rp 73.000 untuk ukuran apapun,” terangnya.

Bungsu empat bersaudara ini mengaku, penjualan kaosnya tidak terpengaruh Ramadan dan Lebaran. “Sifatnya universal karena desainnya memang umum, jadi penjualannya tidak terpengaruh momen-momen tertentu,” pungkasnya. surya.co.id

Ingin Bermanfaat Lebih Banyak melalui Roncean Tasbih


Tasbih umumnya terbuat dari bahan kayu cendana dengan dominasi warna coklat, hitam atau batu fosfor warna putih yang bisa menyala. Namun, kini semakin banyak dijumpai model tasbih dengan bahan mulai mutiara imitasi, kaca hingga batu-batuan. Warnanya pun semakin beragam, kuning, hijau, biru, ungu, juga pink.

Di tangan Ira Puspitasari, aneka batu-batuan, perak, mutiara imitasi atau kaca itu bisa berubah wujud menjadi roncean tasbih nan cantik. Apalagi, masih ditambah batuan Swarovski.

“Apa yang saya mulai ini karena belum cukup puas dengan produk aksesoris wanita. Saya ingin bisa memberi lebih banyak manfaat bagi semua orang atas hasil karyanya. Yaitu dengan membuat tasbih unik yang dibuat dari beragam batu-batuan,” tutur Ira, Kamis (12/8).

Memang, tasbih buatannya tak lepas dari hasil keisengannya dalam memadupadan aksesoris dan barang yang selama ini telah ia geluti sejak dua tahun terakhir. “Saya berpikir kalau misalnya batu-batuan ini saya padu dengan butiran tasbih kayaknya cukup unik. Ternyata banyak teman yang suka,” papar Ira, yang memulai membuat tasbih sejak awal tahun ini.

Agar produk tasbih uniknya lebih dikenal, ia menampilkan kreasinya di internet, seperti yang selama ini kerap dilakukan pada produk aksesoris semacam bros, anting, gelang, hingga gantungan ponsel.

Tak disangka, order mulai berdatangan. Tak hanya dari konsumen yang selama ini rutin membeli aksesoris buatannya, namun juga banyak menyedot konsumen baru yang membeli untuk kebutuhan souvenir, acara-acara tahlilan dan pengajian.

Larisnya produk buatannya itu karena ia cukup pintar menambah aksesoris batu-batuan, swarovsky, dan aksesoris lain pada tasbih yang dibuatnya. Ia memilih bahan tasbih yang masih langka di pasar, seperti logam, perak, kerang-kerangan hingga mutiara imitasi. Untuk merek, ia tetap menggunakan inBeads seperti yang selama ini dikenakan pada produk aksesoris.

Guna memberikan kepuasan bagi konsumen, Ira bisa memasukkan permintaan konsumen dengan kreasinya. “Misalnya konsumen minta aksesoris pembatas mutiara imitasi pada tasbih  terbuat dari batu apa, modelnya bagaimana dan sebagainya, kita cukup customize,” ungkapnya.

Meski cukup kompromi terhadap permintaan konsumen, bukan berarti ia hanya mengandalkan contoh yang disodorkan pembeli. Paling tidak dalam 1-2 bulan sekali ia berupaya menciptakan model baru.

“Pada dasarnya semua saya lakukan karena saya suka memakai aksesoris maupun membuatnya. Sehingga, untuk saat ini saya belum berpikiran mengangkat tenaga kerja. Semua saya lakukan sendiri,” ujar wanita 27 tahun yang juga berprofesi sebagai apoteker.

Karena masih skala kecil, istri Suluh Aji Aribowo ini masih menjalankan semuanya sendiri di sela kesibukannya di bidang farmasi. Pun demikian dengan modal kerja untuk menjalankan roda usahanya.

“Masih kecil jadi belum berpikiran menambah modal ke pihak ketiga. Alhamdulillah suami sangat mendukung kegiatan ini,” ucap ibu satu putra ini.

Meski dikerjakan sendiri, Ira cukup lihai dalam meronce tasbih atau aksesoris. Pasalnya, dalam sehari saja, ia mampu membuat hingga 20 piece tasbih yang dilakukan di sela rutinitas pekerjaannya.

Soal harga, Ira mengaku masih terjangkau untuk kantong masyarakat menengah bawah. Untuk tasbih ukuran jumlah isi 33 butir ia patok dengan harga mulai Rp 4.000-8.000 per piece. Harga itu jauh lebih murah dibanding produk aksesorisnya. Bandingkan dengan harga bros yang mencapai Rp 35.000-50.000 per piece, atau gelang yang di kisaran Rp 25.000-40.000 per piece.

Tak heran jika banyak pelanggannya yang datang tak hanya dari Surabaya dan sekitarnya sjaa, namun juga tak sedikit pembeli dari Jakarta, Tangerang, Depok, hingga Bandung yang meminati produknya.

“Bagi saya yang penting produk inBeads dikenal luas dulu. Soal harga bisa fleksibel, apalagi yang order dalam jumlah banyak,” ujar Ira yang menjadikan rumahnya di kawasan Makarya Binangun Waru, Sidoarjo, sebagai workshop-nya.

Memang, untuk saat ini berkat usaha yang digelutinya pendapatan kotor yang ia raih rata-rata masih di kisaran Rp 750.000 per bulan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bukan tidak mungkin Ira melepas pekerjaannya dan memilih fokus di usaha itu.

“Semua butuh proses. Memang ke depan saya berobsesi memiliki pusat souvenir dan aksesoris sendiri dan totalitas di usaha ini,” harapnya. surya.co.id

Olah Satu Kuintal per Hari, Pasok Cokelat di Supermarket

Citarasa cokelat memang sepanjang masa. Bisnis cokelat pun semanis dan selegit rasanya. Peluangnya masih terbuka lebar, terlebih jika mau berinovasi pada rasa. Tak heran jika banyak yang melirik usaha ini.

Varian cokelat kini sangat beragam. Namun siapa sangka bisnis ini di awal 2000 belum banyak yang berminat, khususnya di kawasan Surabaya dan sekitarnya.

“Pelakunya sangat sedikit, bisa dihitung jari. Ketika 2001 saya memulai usaha ini sempat ketar-ketir juga,” kenang Farida Ariyani, pemilik merek Vanssa Chocolate, belum lama ini.

Ketertarikannya memproduksi cokelat bermula dari keinginan ibu dan neneknya yang juga pembuat cokelat, meski tanpa merek. Berbekal Rp 1 juta rupiah, ia bersama suami mulai fokus pada produksi.

“Saya mewarisi resepnya dari mereka. Sempat beberapa tahun bekerja di perusahaan konveksi, tapi kemudian resign. Sekarang suami saya full mengerahkan waktunya buat membantu usaha ini,” papar wanita kelahiran Malang 43 tahun lalu ini.

Produksinya kini sebanyak satu kuintal cokelat per hari, per kilogramnya bisa menghasilkan 100 buah cokelat kemasan siap jual. Bahan baku biji cokelat dipesan dari supplier luar kota, seminggu sekali. “Rata-rata per bulan bisa menjual sampai Rp 50 juta. Kalau mau Lebaran gini, biasanya orderan meningkat sampai dua kali lipat,” ujar Farida.

Terutama cokelat mix kurma pasti laris. Ada empat varian yang biasa ia jual, crispy, kacang, buah, dan mint. Akhir tahun ini akan diluncurkan varian baru cokelat low sugar, cocok untuk penderita diabetes.

“Sistem pemasarannya, memang tidak membuka outlet khusus, tapi dari toko, minimarket, supermarket hingga hypermarket,” terang ibu satu anak ini.

Sejumlah minimarket dan supermarket yang sudah ia jangkau antara lain, Bonet, Bilka, Hartani, Sinar, Circle-K, Hero, Dunia Buah, serta Istana Buah.

“Kalau bangun gerai khusus, investasinya akan tersedot semua, sedang pemasarannya terabaikan. Kita utamakan pemasaran dulu karena memperkenalkan brand tidak mudah,” jelas Farida, yang berniat merambah luar Jawa dengan mengirim produk-produknya ke Kalimantan.

Saat ini, pelaku usaha kecil menengah (UKM) binaan Bank Mandiri ini memiliki 20 karyawan yang melakukan proses produksi, mulai pengolahan biji cokelat hingga menjadikannya cokelat kemasan siap jual.

“Saya tidak melayani parcel secara khusus, biasanya pembeli sendiri yang mengemasnya menjadi parcel. Kalau dua minggu sebelum Lebaran biasanya pembeli memborong. Sekali beli bisa ratusan ribu. Mungkin itu dijadikan parsel juga,” kata Farida.

Harga cokelat kemasan Vanssa termurah Rp 5.000 (berisi tiga batang cokelat). Sisanya, dikemas dalam bentuk tabung-tabung mini berisi 5-10 batang cokelat, ada pula yang dikemas dalam toples dan box. Cokelatnya bisa tahan sampai delapan bulan.

Diakui Farida, serbuan cokelat impor dari China tidak cukup mengkhawatirkan usahanya. “Konsumen sudah cerdas, jadi bisa menilai. Produk lokal lebih terjamin karena dilengkapi sertifikasi halal. Kalau produk China kan belum tentu,” pungkas Farida. surya.co.id

Laba Cokelat Makin Melekat


Siapa yang tak suka cokelat? Panganan satu ini memang menjadi favorit semua orang, bukan hanya anak kecil atau remaja, tetapi juga orang dewasa. Legitnya pasar ini pula yang membuat banyak masyarakat tertarik menerjuni bisnis olahan cokelat dengan mengandalkan kreasi masing-masing.

Pasar cokelat tak pernah surut oleh masa. Lihat saja, setiap hari ada saja mereka yang meminati panganan ini. Tidak hanya dalam bentuk cokelat batangan, tetapi banyak diaplikasikan dalam beragam makanan mulai dari cake, biskuit, permen, ice cream, hingga minuman.

Selain rasanya yang enak, cokelat juga sering diasosiasikan dengan produk bernilai tinggi dan mahal, sehingga sering dijadikan sebagai hadiah atau souvenir berbagai acara. Mulai peringatan hari ulang tahun, pernikahan, Valentine’s day, momen Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Seperti pengakuan Nadia Handayani, karyawati salah satu perusahaan farmasi di Surabaya. Paling tidak setiap tahun ia selalu memesan kue cokelat untuk momen merayakan hari jadinya. Bahkan, tak jarang ia selalu memesan souvenir berbahan cokelat untuk teman-temannya.

“Apalagi saat ini model-model kue cokelat cukup beragam dan lebih menarik. Produsen cukup kreatif, baik bentuk, bahan, hingga rasa. Kita sebagai konsumen jadi banyak pilihan,” jelas lajang yang pada ulang tahun ke 25 tahun ini memesan kue coklat bergambar foto dirinya ke salah satu UKM di kawasan Rewwin, Waru, Sidoarjo.

Konsumen seperti Nadia ini pula yang menjadi pelanggan bidikan sejumlah pelaku usaha olahan cokelat. Umi Adhiyati, pengusaha kue cokelat TrulyChoco mengakui, selera konsumen terhadap cokelat selama ini berbeda-beda. Ada yang suka manis, namun ada pula yang tak suka manis. Ada yang suka rasa cokelatnya kental, tapi ada pula yang menyukai cokelat hanya sebagai pelengkap rasa.

“Perbedaan selera itu yang harus kita siasati. Bukan berarti kita harus membuat kue cokelat dengan memenuhi semua selera itu. Konsumen juga repot nantinya. Oleh karenanya kita harus membuat yang bisa disukai atau mengena ke semua konsumen,” kata Yati, panggilan akrabnya.

Ibu dua putra ini tahu betul karakter konsumennya. Maklum, ia telah menggeluti usaha olahan cokelat dan kue kering sejak lima tahun lalu. Awal mula ia tertarik terjun di usaha pembuatan kue dan cokelat sekadar coba-coba dengan konsumen hanya sebatas teman dan tetangga.

Karena masih coba-coba, Yati mengaku tak butuh modal banyak. Ia hanya memanfaatkan uang tabungan yang dimiliki. Namun ternyata, banyak yang suka dengan kue buatannya. Paduan bahan, ragam rasa dan bentuk, serta kreasi yang diciptakannya membuat konsumen terus bertambah. Dari situlah usahanya terus berkembang.

“Apalagi didukung pemasaran melalui media internet. Bahkan konsumen saya banyak yang datang dari luar Jatim, seperti Sumatera, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, hingga Makassar,” ungkap wanita 34 tahun ini.

Kekuatan produk TrulyChoco adalah pada ragam bentuk cokelat praline, selain rasa. “Kami hanya menggunakan bahan yang berkualitas tanpa bahan campuran lain yang bisa merusak citarasa dan tekstur cokelat seperti glukose, mentega atau bahan lain dalam bahan dasar cokelat kami. Juga tanpa campuran whisky ataupun rhum, sehingga dijamin halal,” ulas istri Suluh Riawan ini.

Karena cukup berkembang, kini ia banyak mendapat tawaran sejumlah perbankan untuk dikucuri kredit agar usahanya terus berkembang. Namun, ia merasa masih belum memerlukan. Ia masih percaya dengan kemampuan dan keberlangsungan usahanya.

Dengan dibantu 5 orang tenaga kerja, rata-rata Yati mampu memproduksi 20-25 kilogram (kg) kue cokelat setiap harinya. Permintaan kebanyakan untuk souvenir pernikahan dan ulang tahun. Namun pada momen-momen tertentu, seperti Valentine atau jelang Lebaran seperti saat ini, jumlahnya bisa lebih dari 30 kg per hari. “Harga yang kami tawarkan rata-rata Rp 30.000 per kemasan ¼ kg, dan Rp 60.000 untuk ½ kg,” jelasnya.

Hanya saja, ia tak menjual produknya kepada konsumen langsung, melainkan memberi kesempatan kepada agen/reseller untuk berjualan. “Biasanya setiap kali pemesanan reseller minimal Rp 500.000,” ungkap Yati.

Pengusaha cokelat lainnya, Dodo Arief Dewanto, juga mengaku memiliki pelanggan yang loyal. Bersama sang istri, Meutia Ananda, warga Rungkut, Surabaya ini menciptakan kreasi yang unik dan berbeda. Misalnya, ia mengombinasi cokelat dalam beragam bentuk dan bermacam rasa, mulai vanilla, stroberi, tiramisu, hingga blackforest.

Ada juga panganan keripik singkong yang berbalut cokelat beragam rasa. “Tapi, konsumen banyak mengincar kurma yang dilapisi cokelat beragam rasa, di mana bijinya diganti mente atau kenari,” papar pria 35 tahun ini yang mendirikan ‘Chika Store’ sejak 2005 silam.

Terus berkreasi dilakukan karena pasar panganan coklat yang selalu meningkat. Agar lebih mengena ke lidah maupun selera konsumen, ia berupaya menyesuaikan rasa dan bentuknya sesuai dengan momen.

“Menjelang Lebaran seperti saat ini, akan lebih pas jika bentuknya dibuat unta. Atau jika ingin cokelat yang dalamnya kurma dan dikombinasi dengan isi yang unik, seperti mente, almond, atau kenari, kami membuatnya,” paparnya. Harga yang ditawarkan untuk kue-kue ini mulai Rp 10.000 sampai Rp 25.000 sesuai ukurannya.

Pada momen Lebaran ini, permintaan kue kering dan cokelatnya bisa melonjak hingga 3-4 kali lipat. “Pesanan terutama melalui internet, baik secara langsung maupun reseller. Kami tidak menitipkan di ritel modern mengingat harga dan jangka waktu yang tidak tahan lama,” tutur Dodo.

Selain cokelat, ia juga punya produk pilihan yang permintaannya bahkan jauh lebih besar, yakni kue kering berbentuk beragam buah dan sayur, seperti stroberi, pisang, wortel, anggur, tomat hingga terong. surya.co.id

Bermodal Pesangon, Kreatif Ciptakan Mainan Edukatif


Mainan edukatif (educative toys) berbahan kayu kian diminati masyarakat dan kalangan pendidikan. Selain lebih awet, juga lebih ramah lingkungan dibanding bahan plastik. Hanya saja, kualitas dan keanekaragaman produk, serta faktor keamanan bagi anak-anak terkadang masih jadi masalah.

Itu sebabnya, Singgang Margono, 45, warga Perumahan Griya Jombang Indah B-1 Jombang mencoba memproduksi mainan edukatif berbahan kayu, kendati masih skala industri rumahan. Namun demikian, mainan kreasinya sudah dengan standar kualitas memadai, banyak pilihan (keragaman produk), selain aman bagi anak-anak.

Dari sisi kualitas, jelas memadai. Ini karena Singgang menggunakan bahan kayu dengan tingkat kekeringan tinggi. Sebelum diolah menjadi mainan, bahan kayu dikeringkan dengan cara oven lebih dulu. “Kalau diukur, mungkin kandungan air pada kayu mainan saya tinggal 0,12 persen,” kata Singgang, di kediamannya, awal pekan ini.

Menurut Singgang, tingkat kekeringan memang harus tinggi agar lebih awet, tidak dimakan kutu kayu. “Lebih-lebih jika dipajang di supermarket yang biasanya menggunakan AC. Kalau tingkat kekeringan kayu kurang tinggi, bisa cepat terkena kutu,” jelasnya.

Untuk keberagaman, kini ada lebih dari 50 item atau jenis mainan kayu edukatif yang diproduksi. Mulai dari puzzle susun pelangi, pecahan bulat, bangunan unit sampai alat menjiplak.

“Intinya, semua mainan untuk melatih imajinasi, kreativitas, motorik halus, motorik kasar, melatih anak mengenal warna dan lainnya,” imbuh lulusan Fakultas Hukum, Universitas Darul Ulum Jombang ini.

Faktor keamanan bagi anak juga menjadi hal penting. Antara lain, dia tidak menggunakan cat yang mengandung racun atau toxic. “Semua cat dan tiner yang saya gunakan nontoxic. (Mainan) Dikulum seperti ini pun tak bahaya,” jelas Singgang, sembari mengulum mainan ‘pecah bulat’.

Harga pun menjadi perhatian ayah tiga anak ini. “Harga yang kami patok termasuk murah. Bahkan ada yang Rp 3.000 per pieces,” imbuhnya.

Harga yang dipatok bisa miring karena Singgang melakukan efisiensi dalam proses pembuatan produk, tanpa menurunkan kualitas. “Selain kayu pinus, kami menggunakan kayu karet yang sudah tidak diambil getahnya. Ini sebenarnya limbah dan kami beli di Malang,” terangnya.

Demi efisiensi pula, Singgang tak pernah membuang potongan kayu sisa produksi. “Semua saya kumpulkan, karena sekecil apapun pasti ada gunanya untuk selanjutnya,” kata suami Liana ini.

Dengan menjaga kualitas, aman digunakan, keberagaman mainan, serta harga miring, produk Singgang kian diminati, baik kalangan keluarga, lembaga pendidikan (TK dan playgroup), juga sejumlah supermarket. “Pelanggan kami sampai luar pulau, antara lain Medan,” jelas Singgang.

Usaha alat permainan edukatif berbahan kayu yang dirintis sejak 2007 itu lumayan berkembang. Dengan tetap menggunakan rumah tinggalnya sebagai tempat merancang desain, produksi sekaligus show room, kini omzetnya rata-rata Rp 20 juta per bulan.

Singgang Margono mengawali usaha yang kini diberi nama Kids & Play ini baru tiga tahun silam. Saat itu dia baru di-PHK dari pekerjaannya sebagai desainer pada perusahaan mainan anak berbahan kayu khusus ekspor, PT Mentari Massen Toys Indonesia (MMTI), yang bangkrut.

Dengan pesangon tak seberapa, dia mulai merintis usaha mainan anak edukatif berbahan kayu. “Pesangon saya belikan beberapa mesin, seperti mesin bor, gergaji, dan mulai produksi mainan anak,” ujarnya.

Pengalaman selama bekerja di PT MMTI dia praktikkan dalam usaha barunya. “Tapi khusus rancangan, saya lakukan modifikasi, saya sesuaikan dengan kultur lokal. Ini karena produk saya tidak untuk ekspor, juga menghindari tuduhan plagiat,” tegas Singgang.

Singgang yang pernah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta selama enam semester, tak terlalu sulit ketika harus merancang dan mengembangkan desain mainan buatannya, guna menambah keberagaman produk. “80 persen mainan ini hasil rancangan sendiri,” terangnya.

Seperti pelaku usaha umumnya, semula Singgang kesulitan memasarkan produknya. “Banyak TK, playgroup dan toko mainan menolak ketika saya tawari. Rupanya mereka kurang percaya,” ungkapnya.

Tapi ia tak putus asa, hampir setiap hari Singgang menjelajahi TK, playgroup dan toko-toko untuk menawarkan. Sampai akhirnya ada beberapa yang berminat, kendati membeli dalam bentuk eceran.

Dari sini, pembeli mulai percaya produknya cukup berkualitas. Peminat pun kian banyak. Lebih-lebih setelah dia rajin mengikuti pameran hasil kerajinan di luar daerah. Sejumlah order diperoleh, termasuk supermarket besar di Surabaya, Mojokerto, Malang dan Kediri.

Hanya saja, untuk produksi secara massal, misalnya order ribuan pieces, Singgang mengaku tidak berani. “Selain menjaga kualitas, kemampuan kami juga terbatas. Paling kami hanya mampu memproduksi 300 pieces per minggu,” tutur Singgang, yang kini memiliki enam orang karyawan. surya.co.id